INVESTIGASINEWS.CO
SIAK - Diskusi publik bertema “Siak di Tengah Perubahan Zaman: Menjaga Warisan dan Menata Masa Depan” digelar di Anjungan Datuk Lima Puluh Skywalk Jembatan Kaca Siak, Senin malam (11/5/2026).
Kegiatan itu menjadi ruang bertukar gagasan antara masyarakat, tokoh daerah, akademisi, hingga generasi muda terkait arah pembangunan Kabupaten Siak ke depan.
Forum tersebut dihadiri mahasiswa, pemuda, aktivis sosial, organisasi kepemudaan, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum.
Sejumlah narasumber hadir sebagai pemantik diskusi, di antaranya pemerhati sejarah Iskandar, pegiat sosial Wan Hamzah, mantan Kepala PU Tarukim Siak Irving Kahar Arifin, serta dipandu moderator Mayonal Putra.
Dalam pembukaan diskusi, Alfat menyampaikan kegelisahan masyarakat terhadap arah pembangunan dan kebijakan daerah saat ini. Menurut dia, sektor pariwisata maupun pembangunan fisik dinilai belum memiliki fokus yang jelas.
“Sejarah menjadi fondasi awal daerah untuk maju. Namun, hari ini masyarakat bertanya, ke mana arah kebijakan Siak? Wisata tidak fokus, promosi tidak terlihat, bahkan kondisi ikon daerah seperti Istana Siak menjadi sorotan,” ujarnya.
Alfat juga menyinggung program Siak Hijau yang dinilai mulai kehilangan arah, terutama terkait berkurangnya ruang terbuka hijau di pusat kota. Ia berharap pemerintah membuka ruang komunikasi dengan tokoh masyarakat dan generasi muda dalam menentukan wajah Siak pada masa mendatang.
Sementara itu, Iskandar menekankan bahwa Siak merupakan pusat peradaban besar di pesisir timur Sumatera yang memiliki jejak sejarah panjang sejak era Malaka, Johor, hingga berdirinya Kesultanan Siak.
Menurutnya, masyarakat Siak memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga warisan sejarah tersebut sebagai motivasi membangun masa depan daerah.
“Siak ini bukan sekadar tempat, melainkan wilayah peradaban besar yang dipengaruhi unsur Melayu, Bugis, hingga Arab. Kita jangan lagi berpikir kecil. Warisan sejarah ini harus menjadi motivasi untuk maju secara global,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa Kesultanan Siak pernah memiliki pengaruh besar di kawasan Semenanjung Melayu hingga Brunei dan menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Nusantara.
Narasumber lainnya, Wan Hamzah, menilai masyarakat Siak memiliki karakter berpikir terbuka dan global. Ia mengajak generasi muda agar tidak takut menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah selama dilakukan demi kepentingan daerah.
“Kita berkumpul bukan sekadar mengenang sejarah, tetapi memulihkan marwah agar Siak tidak kehilangan cita-cita. Negeri ini harus dikawal bersama,” ujarnya.
Wan Hamzah turut menyoroti pentingnya menjaga kawasan hijau dan identitas lingkungan Kota Siak yang selama ini dikenal asri dan nyaman.
Di sisi lain, Irving Kahar Arifin memaparkan perjalanan pembangunan infrastruktur Kabupaten Siak dari masa ke masa.
Ia menjelaskan pembangunan jalan antarkecamatan hingga desa dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan sejak era kepemimpinan sebelumnya.
Menurut Irving, pembangunan infrastruktur memiliki dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Infrastruktur dibangun karena ada persoalan yang harus diselesaikan. Jalan yang baik akan mendukung ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi pendapatan daerah, terutama dari sektor pajak kendaraan bermotor dan potensi perusahaan yang beroperasi di Kabupaten Siak.
Diskusi publik tersebut berlangsung hangat dan interaktif. Sejumlah peserta berharap forum serupa dapat terus digelar sebagai ruang dialog antara masyarakat, akademisi, tokoh daerah, dan pemerintah guna menjaga warisan sejarah sekaligus menata masa depan Kabupaten Siak.***km.red
Komentar