INVESTIGASINEWS.CO
Lembata — Bencana banjir yang menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Lembata pada 28 April 2026 lalu, hingga menelan korban jiwa dan merusak ratusan rumah, seharusnya menjadi peringatan penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah.
Namun, hanya beberapa pekan setelah banjir terjadi, sampah kembali terlihat memenuhi bantaran kali dan drainase di sejumlah titik.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran baru karena tumpukan sampah dinilai berpotensi memicu banjir susulan ketika musim hujan tiba.
Selain faktor penebangan hutan di wilayah perbukitan dan aktivitas penambangan galian C di daerah aliran sungai (DAS), kebiasaan masyarakat membuang sampah sembarangan disebut menjadi salah satu penyebab utama tersumbatnya saluran air.
Selama musim kemarau, sebagian warga diketahui membuang sampah ke tengah kali dan drainase. Akibatnya, aliran air tersumbat dan meluap ke kawasan permukiman saat hujan deras terjadi.
Pasca-banjir pada akhir April lalu, kawasan kali dan drainase sebenarnya sempat bersih karena sampah tersapu arus banjir. Namun, dalam sepekan terakhir, sampah kembali menumpuk akibat rendahnya kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan.
Ketua RT setempat, Anton Kuyo Kaek, mengaku telah berulang kali mengimbau warga agar tidak membuang sampah di daerah aliran banjir maupun drainase.
“Saya sudah mengimbau semua warga agar tidak membuang sampah di daerah aliran banjir dan drainase. Imbauan itu saya sampaikan secara lisan saat pertemuan warga, juga melalui surat pemberitahuan dan spanduk yang dipasang di sepanjang daerah aliran banjir. Namun, masih banyak warga yang tidak menghiraukannya,” ujar Anton dengan nada kecewa.
Ia menilai perilaku tersebut dapat membahayakan keselamatan masyarakat sendiri karena berpotensi menimbulkan banjir dan berbagai dampak kesehatan.
Hal senada disampaikan seorang pegawai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan. Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya masih sangat rendah.
“Mereka tidak sadar bahwa dampak dari tindakan itu akan kembali menimpa diri mereka sendiri. Ironisnya, banyak pelaku pembuangan sampah sembarangan justru berasal dari kalangan berpendidikan dan berkecukupan,” katanya.
Sementara itu, seorang warga yang tinggal di kawasan aliran banjir, Jastin A., mengatakan sampah yang dibuang warga di wilayah hilir sering terbawa arus ke kawasan hulu saat hujan deras terjadi.
“Orang-orang yang tinggal di hilir sering membuang sampah di daerah aliran banjir. Saat musim hujan, sampah itu terbawa arus ke wilayah hulu sehingga kami yang tinggal di sini menjadi korban luapan banjir,” ujarnya.
Menurut Jastin, menjaga kebersihan lingkungan, termasuk daerah aliran sungai dan drainase, merupakan tanggung jawab bersama. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak sepenuhnya menyalahkan pemerintah apabila banjir kembali terjadi.
“Kalau nanti banjir kembali melanda permukiman warga, jangan hanya menyalahkan pemerintah. Yang membuang sampah sembarangan adalah kita sendiri sebagai masyarakat,” tutupnya.***tvbw
Komentar