INVESTIGASINEWS.CO
SIAK. Senin 08/04/2019. UMKM dibedakan, masing-masing usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah. Hal itu tertuang dalam Undang-Undang no.20 tahun 2008, tentang UMKM. Peran usaha mikro, kecil dan menengah ini, sangat membantu untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru. Kemampuan wirausahawan adalah kunci keberhasilan setiap usaha.
SIAK. Senin 08/04/2019. UMKM dibedakan, masing-masing usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah. Hal itu tertuang dalam Undang-Undang no.20 tahun 2008, tentang UMKM. Peran usaha mikro, kecil dan menengah ini, sangat membantu untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru. Kemampuan wirausahawan adalah kunci keberhasilan setiap usaha.
Semua kecamatan di Kabupaten Siak, UMKM menjadi sektor yang diminati masyarakat. Dukungan Pemerintah Siak terhadap adanya UMKM selama ini, diharapkan akan mampu mendongkrak ekonomi kerakyatan.
Seperti UMKM yang ada di Desa Muara Kelantan Kecamatan Mandau Kabupaten Siak ini, ternyata limbah sawit yang satu ini, tidak hanya bisa diolah menjadi sapu atau tusuk sate saja.
Lidi atau tulang daun kelapa itu, juga bisa disulap menjadi kerajinan menarik yang unik dan diminati konsumen di pasar domestik maupun internasional. Hal itu tentunya bisa menambah penghasilan keluarga para petani di daerah itu.
Untuk membuat kerajinan menarik dari lidi sawit, dibutuhkan ketekunan dan sentuhan kreativitas serta kesabaran.
Seperti yang dilakukan oleh sekelompok ibu ibu di Desa Muara Kelantan, Kecamatan Sungai Mandau , Kabupaten Siak, sudah sejak setahun lalu, dengan modal limbah lidi kelapa sawit, mereka mengubah lidi sawit menjadi aneka kerajinan anyaman yang unik dan bernilai ekonomis.
Mereka mengolah lidi menjadi aneka bentuk souvenir, seperti piring tempat buah, parcel, mangkok nasi bahkan lampu hias aladin yang sangat unik.
Potensi kerajinan lidi sawit ini, bisa dijadikan salah satu solusi untuk UMKM, karena bahan baku di lingkungan kampung Muara Kelantan sangat berlimpah dan bisa di produksi massal.
Seperti yang disampaikan Kepala Kampung Muara Kelantan, Amir, "Potensi kerajinan lidi sawit di Muara Kelantan, mampu dijadikan salah satu solusi untuk UMKM. Karena bahan baku di lingkungan kampung kita ini sangat banyak berlimpah dan bisa diproduksi massal kerajinan ini", tuturnya kepada wartawan INVESTIGASINEWS.CO, Senin 08/04/2019 di kantor desa Muara Kelantan.
Produksi kerajinan lidi sawit yang dihasilkan pengrajin warga Kampung Muara Kelantan khususnya ibu-ibu ini, merupakan hasil pelatihan sebelumnya yang diselengarakan oleh Pemerintah Kampung Muara Kelantan pada tahun 2018 lalu.
"Untuk menekuni kerajinan anyaman lidi sawit, sebenarnya tidak sulit mas, hanya dibutuhkan ketekunan dan kesabaran serta sentuhan kreatifitas. Saat pertama belajar menganyam lidi sawit ini, memang dibutuhkan kesabaran dan ketekunan. Pertama belajar membuat, memang semua ujung jari pada sakit, bahkan terluka tapi lama kelamaan sudah terbiasa. Dalam satu hari bisa membuat lima buah anyaman piring oval dan tempat nasi yang dikerjakan sendiri tanpa bantuan orang lain", jelasnya.
Saat ini, warga ibu-ibu pengrajin di Muara Kelantan yang berjumlah sekitar 17 orang itu, berharap kerajinan menganyam limbah lidi sawit ini, bisa lebih mendapat perhatian dan dukungan dari pemerintah setempat, khususnya Pemda Siak, agar bisa menambah penghasilan keluarga dan mampu menyerap lapangan kerja baru lebih banyak lagi.
Amir juga menjelaskan proses membuatnya, bahwa proses pengerjaan anyaman lidi sawit juga tergolong sederhana, setelah batang lidi dipisahkan dari daunnya, segera dibuat anyaman sebelum lidi sawit mengering, sebab jika lidi sawit kering, akan susah dibentuk. Lalu setelah kering baru di cat varnish agar mengkilap. Warnanya juga bisa disesuaikan dengan keinginan pesanan, warna dasar tetap warna varnish.
Ketika disinggung hal pemasaran dan permodalan selama ini, Amir katakan, "Benar mas, kelompok pengrajin limbah lidi sawit di Kampung Muara Kelantan berharap kepada pemerintah agar dapat dibantu dari segi pemodalan dan pemasaran kerajinan lidi kelapa sawit yang dapat menjadi pendapatan pencarian warga Kampung untuk pengembangan usaha dan pemasaran produk hasil kerajinan demi peningkatan perekonomian rakyat", harapnya.
Saat ini, anyaman lidi sawit yang diproduksi masih sebatas pesanan saja. Untuk produksi aneka piring dan tempat parcel harganya cukup terjangkau bagi konsumen, yaitu hanya 10.000 per buah, sedangkan anyaman lampu gantung harganya lebih tinggi, lengkap dengan bola lampu, memang sedikit mahal karena cara membuatnya juga cukup rumit.
Kedepan kelompok UMKM Desa Muara Kelantan ini, akan berupaya untuk menggandeng perusahaan yang ada di daerah sekitarnya untuk lebih membesarkan produksinya.
"Kami sudah koordinasi dengan perusahaan di sekitar daerah kami, kedepan kami akan memasukkan surat secara resmi guna bisa bekerjasama dalam sektor UMKM ini. Kami berharap semoga lancar semua", tutup Kepala Kampung Muara Kelantan, Amir, kepada wartawan INVESTIGASINESW.CO mengakhiri wawancaranya.***komar
Komentar








