Foto: Dari Akar Rumput Menuju Panggung Nasional, PKR dan Misi Mengembalikan Kedaulatan ke Tangan Rakyat.
Opini Ditulis oleh: Tuntas Subagyo (Ketum DPP PKR)
INVESTIGASINEWS.CO
Di tengah meningkatnya kritik terhadap praktik politik yang dinilai semakin elitis dan dikuasai oleh kekuatan modal, kemunculan Partai Kedaulatan Rakyat (PKR) menawarkan narasi yang berbeda. Partai yang dipimpin Prof. Dr. Tuntas Subagyo ini memilih membangun kekuatan politik dari bawah, dengan bertumpu pada basis akar rumput yang selama ini menjadi denyut nadi perjuangan rakyat kecil.
Berbeda dengan banyak partai yang lahir dari kompromi elite atau dukungan kelompok berkekuatan finansial besar, PKR mengklaim tumbuh dari fondasi gerakan masyarakat yang telah lama terorganisir melalui Tikus Pithi Hanata Baris (TPHB).
Basis sosial inilah yang kemudian ditransformasikan menjadi kekuatan politik formal dengan tujuan menghadirkan representasi yang lebih nyata bagi masyarakat bawah.
Politik dari Bawah, Bukan dari Ruang Elite
Kekuatan utama PKR terletak pada jaringan kader dan simpatisan yang tersebar hingga ke daerah-daerah. Struktur organisasi dibangun secara organik melalui proses kaderisasi yang berjenjang, bukan melalui rekrutmen figur-figur populer secara instan.
Pendekatan ini menunjukkan keyakinan bahwa demokrasi yang sehat harus bertumpu pada partisipasi rakyat, bukan semata-mata pada kekuatan modal dan popularitas. Dalam konteks inilah PKR memosisikan dirinya sebagai rumah politik bagi "wong cilik", kelompok masyarakat yang selama ini sering menjadi objek politik, tetapi jarang menjadi subjek dalam pengambilan keputusan.
Bagi PKR, kemiskinan struktural bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan juga persoalan politik. Ketika akses terhadap kebijakan publik hanya dinikmati kelompok tertentu, maka ketimpangan akan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Menatap Pemilu 2029 dengan Mesin Politik Akar Rumput
Persiapan menuju Pemilu 2029 menjadi momentum penting bagi PKR untuk membuktikan efektivitas model politik berbasis rakyat. Konsolidasi organisasi terus dilakukan melalui penguatan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) di 38 provinsi, serta pembenahan struktur hingga tingkat ranting.
Langkah ini menunjukkan bahwa PKR tidak ingin menjadi partai musiman yang hanya aktif menjelang pemilu. Sebaliknya, partai ini berupaya membangun mesin politik yang hidup di tengah masyarakat dan mampu bekerja secara berkelanjutan.
Di sisi lain, slogan "Make Indonesia Great Again" atau MIGA diusung sebagai simbol komitmen terhadap pembangunan nasional yang berpihak kepada rakyat. Meski slogan tersebut memancing berbagai interpretasi, substansi yang ingin disampaikan adalah pentingnya mengembalikan orientasi pembangunan kepada kepentingan masyarakat luas.
Rekonstruksi Demokrasi dari Bawah
Gagasan besar yang diusung PKR sesungguhnya tidak berhenti pada perebutan kekuasaan elektoral. Lebih jauh, partai ini menawarkan konsep rekonstruksi demokrasi dari bawah, yaitu menghadirkan mekanisme pengawasan publik yang lebih kuat terhadap kebijakan pemerintah.
Dalam pandangan politik yang dikembangkan Ketua Umum PKR, rakyat tidak boleh hanya hadir saat memberikan suara di bilik pemilu. Rakyat harus memiliki ruang yang nyata untuk mengawasi, mengevaluasi, dan mengoreksi kebijakan yang dinilai merugikan kepentingan masyarakat.
Konsep ini menjadi relevan ketika tingkat kepercayaan publik terhadap institusi politik menghadapi berbagai tantangan. Demokrasi tidak cukup hanya berjalan secara prosedural, tetapi juga harus mampu menghadirkan keadilan sosial dan kesejahteraan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Harapan dan Tantangan
Perjalanan PKR menuju panggung politik nasional tentu tidak akan mudah. Persaingan dengan partai-partai besar yang telah memiliki sumber daya, jaringan, dan pengalaman panjang menjadi tantangan tersendiri.
Namun sejarah politik menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali lahir dari gerakan-gerakan yang tumbuh dari bawah. Jika mampu menjaga konsistensi perjuangan, memperkuat organisasi, dan tetap dekat dengan kebutuhan rakyat, PKR berpeluang menjadi salah satu kekuatan politik alternatif yang diperhitungkan pada Pemilu 2029.
Pada akhirnya, yang akan menentukan bukanlah seberapa besar slogan yang dikumandangkan, melainkan seberapa nyata keberpihakan kepada rakyat dapat diwujudkan dalam tindakan politik sehari-hari. Di titik itulah Partai Kedaulatan Rakyat akan diuji: apakah benar mampu menjadi kendaraan perjuangan rakyat, atau sekadar menjadi satu nama baru dalam panjangnya daftar partai politik Indonesia.***
Opini Ditulis oleh: Tuntas Subagyo (Ketum DPP PKR)
Komentar