Foto: Jejak Leluhur di Balik Tenun Rembong, Warisan Sakral Manggarai Timur yang Bertahan hingga Kini.
INVESTIGASINEWS.CO
MANGGARAI TIMUR — Kain tenun tradisional rembong (lipa dela) tetap lestari sebagai warisan leluhur masyarakat Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, dengan nilai adat, sosial, dan filosofi yang terus dijaga hingga kini.
Berdasarkan wawancara dengan Yuliana, warga Kampung Nele, Kelurahan Lempang Paji, Kecamatan Elar, Kamis (1/5/2026), kain rembong pertama kali dibawa oleh Suku Mange sekitar tahun 1950. Suku tersebut merupakan kelompok tertua yang mendiami wilayah itu.
Awalnya, kain rembong hanya dikenakan oleh kalangan bangsawan pria atau ata rana. Namun, seiring perkembangan zaman, penggunaannya meluas ke seluruh lapisan masyarakat.
Dalam kehidupan adat, kain rembong memiliki fungsi penting, antara lain sebagai penutup tubuh (wengko weki), perlengkapan upacara adat seperti penti, simbol pemberian dalam pernikahan (wina wai dan belis), pembungkus jenazah (lipa rokot), hingga digunakan dalam musyawarah adat dan tarian perang tradisional (melas).
Secara filosofis, motif pada kain ini mengandung makna mendalam. Motif wela runu melambangkan hubungan manusia dan alam, motif anting mencerminkan nilai kemanusiaan, sementara motif su’i (garis) menggambarkan batas dan akhir dalam kehidupan.
Proses pembuatan kain rembong dilakukan secara tradisional dengan tahapan yang cukup rumit, mulai dari penggulungan benang (pidik), pengaturan benang menggunakan alat seperti wongka dan zangka, hingga proses baluk atau pelilitan benang sebelum ditenun.
Seluruh proses membutuhkan ketelitian tinggi dan biasanya dikerjakan oleh dua orang.
Selain itu, penenun menggunakan alat tradisional seperti kelirik dan zanta yang terbuat dari kayu dan bambu.
Pembuatan satu lembar kain rembong memakan waktu sekitar 14 hari, dengan jam kerja dari pukul 07.00 hingga 15.00 WITA, dan dikerjakan oleh kaum perempuan secara turun-temurun.
Yuliana menyebutkan, meskipun menggunakan peralatan sederhana, kualitas dan nilai budaya dalam setiap kain tetap terjaga. Ia menegaskan bahwa kegiatan menenun tidak sekadar menghasilkan karya, tetapi juga menjadi upaya menjaga identitas dan sejarah leluhur.
Kain tenun rembong tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga bukti keberlanjutan tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Masyarakat setempat berharap warisan ini tetap hidup dan dikenal luas oleh generasi mendatang.***
Liputan Aurelius Julio Taji
Editor. KAPERWIL NTT
EPHINEUS PARNO
Komentar