Melestarikan Budaya, Merawat Pesisir melalui Festival Muro

InvesBoleh diganti atau hapus

InvesBoleh diganti atau hapus

HU-KRIM


Melestarikan Budaya, Merawat Pesisir melalui Festival Muro

Kamis, 23 April 2026
Foto; Melestarikan Budaya, Merawat Pesisir melalui Festival Muro. 

INVESTIGASINEWS.CO
Lembata — Berdasarkan penilaian risiko dampak perubahan iklim tahun 2020, Kabupaten Lembata menghadapi ancaman abrasi, kerusakan ekosistem seperti terumbu karang dan hutan mangrove, serta peningkatan suhu pesisir.

Dampak lanjutan dari kondisi tersebut membuat nelayan harus melaut lebih jauh dengan waktu tangkap yang semakin terbatas. Menjawab tantangan itu, masyarakat adat Lembata mengandalkan Muro, sebuah sistem konservasi laut berbasis kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Melalui aturan adat, Muro menerapkan sistem zonasi dan periode pengambilan hasil laut sehingga ekosistem memiliki waktu untuk pulih dan sumber daya laut tetap berkelanjutan. 

Tradisi ini bukan sekadar praktik ekologis, melainkan juga menjadi sumber harmoni antara manusia dan alam.

Festival Muro dibuka pada Rabu, 22 April 2026, dengan kegiatan trekking menyusuri kawasan konservasi. Para peserta diajak melihat langsung upaya pelestarian pesisir, termasuk pelepasan 95 terumbu karang buatan (bioreeftek) sebagai bagian dari rehabilitasi ekosistem laut, serta penanaman 400 anakan mangrove sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan.

Festival juga diisi dengan diskusi bersama komite Muro dan kaum muda dengan tema “Muro sebagai Identitas Budaya Lokal Masyarakat Lembata dalam Merawat Konservasi Laut dan Pesisir Berkelanjutan.”

Resource Mobilization and External Relation Director Plan Indonesia, Urip Budiarto, kepada awak media mengatakan bahwa pelibatan anak-anak dan generasi muda penting untuk menanamkan tanggung jawab sosial, nilai cinta lingkungan, serta kebanggaan terhadap budaya lokal. 

Ia menegaskan bahwa Muro merupakan contoh nyata bagaimana perlindungan lingkungan dan pemenuhan hak anak dapat berjalan seiring dalam konteks budaya masyarakat adat.

Ketua Yayasan Bina Sejahtera Baru (YBS Baru) Lembata, Kornelia Penate, menyebut Muro sebagai bentuk penghargaan terhadap budaya melalui partisipasi masyarakat adat, nelayan, kaum muda, perempuan, serta pemerintah desa. 

Ia menambahkan bahwa Muro merupakan investasi bersama sehingga seluruh elemen masyarakat perlu menjaga laut dan pesisir dari berbagai ancaman.

Sementara itu, tetua adat Stanis Kaldy menilai 
Festival Muro 2026 sebagai momentum kolaborasi antara masyarakat adat, pemerintah, akademisi, pelajar, pelaku usaha, dan wisatawan. Ia menyatakan bahwa kegiatan ini tidak sekadar seremonial budaya, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan Lembata sebagai destinasi ekowisata berbasis kearifan lokal.

Festival Muro tidak hanya memperkuat identitas budaya masyarakat Lembata, tetapi juga menjadi upaya nyata dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir. Kolaborasi berbagai pihak diharapkan mampu merawat laut dan lingkungan sebagai warisan bagi generasi mendatang.***tvbw

Most Popular

Video InvestigasiNews.co

https://www.youtube.com/@investigasinewsredaksi/featured

Video Terpopuler

https://www.youtube.com/@DwiPurwanto-kd4uf

Berita Terkini

Melestarikan Budaya, Merawat Pesisir melalui Festival Muro

Foto; Melestarikan Budaya, Merawat Pesisir melalui Festival Muro.  INVESTIGASINEWS.CO Lembata — Berdasarkan penilaian risiko da...