Kadisdik Lembata, Ansel Ola Bahy. "Jangan Mengejar Angka, Kejarlah Nilai"

InvesBoleh diganti atau hapus

InvesBoleh diganti atau hapus

Iklan Semua Halaman | Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px.

HU-KRIM

Kadisdik Lembata, Ansel Ola Bahy. "Jangan Mengejar Angka, Kejarlah Nilai"

Kamis, 06 Januari 2022
Foto: Ansel Ola Bahy, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata, Propinsi NTT.

INVESTIGASINEWS.CO
LEMBATA - Pihak sekolah diminta untuk tidak mengejar angka hanya untuk mendongkrak prestasi peserta didik, tapi hendaklah mengejar nilai terlebih dahulu, demi menanam etika, moralitas yang positip kepada anak anak peserta didik. Kiranya mereka tau etika dan tatakrama dalam pergaulan sehari hari.

HaI demikian, disampaikan Kepala Dinas pendidikan kabupaten Lembata, Ansel Ola Bahy, kepada INVESTIGASINEWS.CO ketika melakukan  kunjungan perdananya diawal tahun 2022, di SD Inpres Lamahora, kelurahan Lewoleba Timur, Kabupaten Lembata, NTT, Rabu 04/01/2022.
   
Menurut Ansel, angka yang tertera dalam buku laporan pendidikan atau ijasah, hanyalah deretan angka yang dapat direkayasa.

"Tapi nilai nilai kemanusiaan, peradaban, etika, moral dan tatakrama, tidak dapat direkayasa, dan perlu ditanamkan lebih dini kepada anak anak peserta didik, agar mereka bisa mengamalkannya dalam kehidupan mereka sehari hari, baik dalam pergaulan dengan teman teman sesama peserta didik dan para guru di sekolah, maupun dengan orang tua dan masyarakat di lingkungan sekitarnya", terangnya. 
    
Menurut Ansel Ola Bahy, pentingnya menanamkan nilai tatakrama kepada peserta didik sejak awal, agar bisa terbiasa dan terbawa sampai ke jenjang pendidikan selanjutnya, hingga akhirnya kembali masyarakat.
    
"Kita perlu menanam nilai nilai peradaban, etika kemanusiaan dan tatakrama kepada peserta didik, khusunya anak anak sekolah dasar, agar mereka terbiasa dengan tata krama dan nilai nali sopan santun, baik di sekolah maupun masyarakat, karena moralitas anak anak dijaman milenial ini, tidak sebanding dengan kita dimasa lampau", sambung orang nomor satu di Dinas pendidikan Kabupaten Lembata, NTT ini.

Kita dahulu begitu hormat kepada para guru, tetapi anak anak sekarang, segan saja tidak, apalagi hormat kepada para guru dan orang tua.
 
Menurut Ansel, demikian sapaan maniesnya, mungkin juga ini sebagai salah satu sisi negatip dari undang undang perlindungan perempuan dan anak, yang membuat anak anak merasa terlindungi dari segala bentuk tindak kekerasan, sehingga bisa bebas berbuat apa saja sesukanya.

"Padahal, suatu ketika dahulu, ditengah masyarakat, guru itu manusia serba bisa, selain sebagai guru, juga  berperan sebagai seniman, olahragawan, rohaniwan/ti, sebagai penegak hukum adat dan pengontrol jalannya roda pemerintahan desa", terangnya. 

Olehnya, Anselmus Ola Bahy, akan mencoba menerapkan kembali prinsip, dimana mengabdi di situ berdomisili, yang sudah dilakukan oleh para guru di tempo doeloe. 

Dengan demikian, guru bisa lebih dekat dan menyatu dengan masyarakat setempat, agar terciptah relasi yang lebih familiar.
  
Diakhir kunjungannya, Ansel berpesan kepada para guru agar menjadikan sekolah sebagai lingkungan yang humanis bagi siapa saja, baik peserta didik maupun masyarakat.

Selain itu, para guru diminta untuk menggunakan segala kemampuan dan pengetahuan phsikologinya, untuk mengejar nilai nilai prilaku dan moralitas bagi peserta didik.
   
"Saya harap, bapak dan ibu guru, jangan utamakan mengejar angka, tapi kejarlah nilai nilai, yang mencerminkan etika dan tatakrama, moralitas dan nilai nilai kemanusiaan terlebih dahulu. Salah satu  langkah yang bisa dilakukan adalah dengan menjadikan sekolah sebagai lingkungan yang humanis bagi siapa saja, baik para guru dan peserta didik, maupun bagi masyarakat disekitar sekolah", pungkas Ansel.***

Laporan Kabiro Lembata: Tuan Vincent Balawala