Foto: Ketika “Siak The Truly Malay” Dipersoalkan: Antara Jati Diri Lokal dan Strategi Branding Global.
INVESTIGASINEWS.CO
SIAK - Perbedaan pandangan mengenai tagline daerah “Siak The Truly Malay” mengemuka dalam Simposium Siak sebagai Pusat Kebudayaan Melayu.
Forum ini mempertemukan sudut pandang yang saling bertentangan antara penguatan identitas lokal dan kepentingan promosi daerah ke tingkat internasional.
Body
Simposium yang digelar di Balairung Datuk Empat Suku, Kompleks Abdi Praja Siak, Selasa (10/2/2026), tersebut menghadirkan sejumlah tokoh Melayu dan sejarawan nasional, Prof. Dr. Anhar Gonggong.
Diskusi berlangsung dinamis ketika isu penggunaan tagline daerah menjadi sorotan utama peserta.
Wakil Bupati Siak, Syamsurizal, menyampaikan pandangannya bahwa penggunaan bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu lebih tepat mencerminkan jati diri dan marwah kebudayaan Siak.
Ia menilai, pemilihan bahasa asing dalam tagline daerah perlu dikaji ulang agar tidak menjauh dari identitas kultural masyarakat setempat.
“Bahasa Indonesia lahir dari bahasa Melayu. Itu identitas kita. Tagline daerah seharusnya mencerminkan akar budaya sendiri,” ujarnya.
Namun pandangan tersebut mendapat tanggapan berbeda dari mantan Bupati Siak, Syamsuar.
Ia menegaskan bahwa tagline “Siak The Truly Malay” merupakan hasil riset dan kajian panjang sebagai bagian dari strategi branding daerah.
Menurutnya, penggunaan bahasa Inggris dimaksudkan untuk memperkenalkan Siak ke kancah internasional.
“Tagline ini lahir dari kebutuhan branding global. Siak telah menjadi tuan rumah berbagai agenda internasional, sehingga diperlukan bahasa yang mudah dipahami dunia,” jelas Syamsuar.
Perdebatan ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara idealisme pelestarian identitas lokal dan kebutuhan promosi daerah dalam persaingan global.
Perbedaan pandangan terkait tagline “Siak The Truly Malay” mencerminkan dinamika pemikiran dalam membangun daerah: antara mempertahankan simbol jati diri kebudayaan Melayu dan menyesuaikan strategi komunikasi untuk kepentingan internasional.
Simposium ini menjadi ruang penting untuk merumuskan arah kebijakan kebudayaan Siak ke depan, tanpa mengabaikan nilai historis dan tantangan global.***red.komar
Komentar