Bangunan di Tepi Sungai di Singosari, Dikabarkan Langgar GGS, Pemilik Bangunan: "Kami Sudah Dapat Izin Dari Dinas Pengairan"

InvesBoleh diganti atau hapus

InvesBoleh diganti atau hapus

Iklan Semua Halaman | Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px.

HU-KRIM

Bangunan di Tepi Sungai di Singosari, Dikabarkan Langgar GGS, Pemilik Bangunan: "Kami Sudah Dapat Izin Dari Dinas Pengairan"

Jumat, 10 Desember 2021
Foto: Pihak Pendiri Pondok Tahfidz (Imam Jazuli - Peci Putih) bersama Pihak Dinas Pengairan Kabupaten Malang (To'id) saat pemantauan bantaran sungai jelang penggalian fondasi bangunan Pondok Tahfidz. (Doc.istimewa)

INVESTIGASINEWS.CO
Kab.Malang - Pemilik Bangunan yang berada di tepian sungai yang membentang antara wilayah dusun Sumber Biru Gunungrejo dan Candirenggo, Kecamatan Singosari Kabupaten Malang yang sempat diinformasikan melanggar Garis Sebadan Sungai (GSS) sehingga membuat Sungai tersebut menyempit akhirnya angkat bicara.

Pemilik Bangunan ini yakni Imam Jazuli saat menemui tim media dalam investigasi langsung yang dilakukan di lokasi bangunan pada Jumat (10/12/2021) pukul 01:20 WIB, mengatakan, bahwa kabar tentang bangunan ini tidaklah benar karena bangunan ini bukanlah bangunan indekos (kos-kosan) melainkan bangunan Pondok Pesantren Tahfidz.

"Bangunan ini sejak awal didirikan, diniatkan untuk tahfidzul Qur'an dan insha Allah namanya nanti Pondok Ribat Assidqi. Dengan tujuan murni untuk pendidikan Qur'an bukan untuk Politik atau macam-macam. Pendirian Pondok ini kami dirikan bersamaan dengan pendirian Pondok Zawiyah Takhfidzul Qur'an yang kedua-duanya merupakan amanat dari Romo Kiyai Bashori Alwi ," terangnya.

Menurut Imam Jazuli, pendirian bangunan pondok inipu telah mendapat izin dari Dinas Pengairan Kabupaten Malang sehingga pihaknya berani melakukan pembangunan di kawasan ini.

"Saat awal jelang penggalian pondasi di pinggir sungai, kami juga mengundang Dinas Pengairan pada saat itu dihadiri pak To'id dan beliau mewakili Dinas Pengairan telah menyampikan bahwa batas sungai itu adalah batas yang benar. Sehingga kami berani mendirikan bangunan ini," sambung Imam Jazuli.

Selain itu, saat ditanya terkait letak bangunan yang saat ini seperti berada di badan sungai, ustadz yang akrab disapa Buya Jazuli ini  menegaskan, berkaitan dengan kondisi visual seolah-olah bangunan ini berada di separuh badan sungai ini dikarenakan adanya galian plengsengan (galian fondasi) yang belum sempat dibangun sehingga terisi oleh aliran sungai yang cukup kencang lantaran  kondisi cuaca selama dua tahun terakhir.

"Kedepannya galian yang sudah ada akan kami bangun plengsengan (abrasi sungai) karena itu sudah masuk dalam rencana pendirian bangunan ini," ungkap Insinyur alumni Jurusan Teknik sipil yang ditempuh di Universitas Merdeka (UNMER) Malang ini.

Sementara itu, Mawardi salah satu warga sekitar bangunan saat dikonfirmasi terpisah turut menjelaskan.

Mawardi yang ditemui di kediamannya yang tidak jauh dari lokasi bangunan Pukul 13. 35 WIB menerangkan, selama dua tahun terakhir, tebing yang berseberangan dengan bangunan ini juga oleh pemiliknya sengaja diuruk hingga longsor ke arah sungai sehingga arus air lebih deras ke arah bangunan dan mengikis tanah di pinggiran bangunan ini.

"Tebing itu dulunya tidak begini, tapi warga yang di seberang sengaja miringin (dilongsorkan) mungkin agar bisa lebih leluasa ke sungai untuk mencuci ataupun keperluan lainnya," ungkapnya.

Mawardi juga menjelaskankan bahwa memang ada bangunan kos-kosan yang berdiri di tepian sungai di sekitar kawasan sungai ini. Namun sepengetahuannya bukan bangunan ini. Karena bangunan ini kabarnya akan dijadikan Pondok Tahfidz.

Untuk diketahui, pemilik bangunan ini juga telah menghibahkan tanahnya untuk pelebaran jembatan sehingga terkesan bangunan ini sangat mepet dengan jembatan penghubung dua Dusun di Kecamatan Singosari ini.***

Laporan: Damanhury Jab (Kaperwil Jatim)