Bahasa Daerah akan Masuk dalam Kurikulum Pendidikan di Lembata

InvesBoleh diganti atau hapus

InvesBoleh diganti atau hapus

Iklan Semua Halaman | Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px.

HU-KRIM

Bahasa Daerah akan Masuk dalam Kurikulum Pendidikan di Lembata

Jumat, 19 November 2021
Foto: Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lembata, Anselmus Ola Bahy

INVESTIGASINEWS.CO 
Lembata - Bahasa sebagai media komunikasi antar semua umat manusia.memiliki nilai dan tatanan tersendiri. Sehingga apabila diungkap dengan penuh perasaan, dengan memperhatikan etika berbahasa, maka akan menunjukan nilai seni berbahasa.

Namun Kita di Lamaholot, khususnya di Kabupaten Lembata, sedang dilanda degredasi budaya, yang suatu waktu nanti akan melenyapkan bahasa daerah dari penuturan generasi yang akan datang.
    
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Lembata, Anselmus Ola Bahy, dalam pertemuan dengan media INVESTIGASINEWS.CO, di ruang kerjanya, Kamis 18/112021

"Bahasa daerah sebenarnya mempunyai nilai seni yang sangat dalam dan sakral, apabila diungkap dengan tata bahasa daerah yang santun dan penuh etika", ujarnya. 

Bahasa daerah Lamaholot, sebenarnya sudah mengandung tuturan sastra yang sangan sakral dalam penuturan pada acara upacara upacara seremonial adat yang amat sakral, dan biasanya digunakan dalam bahasa bahasa yang bernuansa sastra.
  
Bahasa daerah yang bernuansa sastra, biasanya digunakan oleh tokoh tokoh adat, pada upacara adat, misalnya pada waktu upacara meminang anak gadis, pelaksanaan proses adat pernikahan, upacara kematian, pesta rakyat, termasuk upacara rekonsiliasi relasi antara umat manusia dan alam semesta.
  
"Tapi akibat moderniasi budaya barat dan hadirnya ilmu pengetahuan dan teknologi, mengakibatkan degredasi budaya yang kian parah, termasuk pergeseran nilai bahasa daerah yang menjadi bagian dari budaya kita", sambung mantan camat Lebatukan ini.

Ia juga menuturkan betapa pentingnya melestarikan budaya daerah dan bahasa daerah.

"Penuturan bahasa daerah yang bernuansa sastra, akan lenyap dari negeri ini, apabila kita tidak cepat tanggap untuk berusaha menggali, dan melestarikan, dalam rangka mempertahankan nilai sastra dalam penuturan bahasa daerah pada ritual adat yang formal", tutupnya.***

Laporan: Vinsensius Tuan (Kabiro Lembata)