Normalisasi Parit Tersier dan Sekunder, Asal Dana APBN, di Kemuning Muda, Diduga Asal-asalan

InvesBoleh diganti atau hapus

InvesBoleh diganti atau hapus

Iklan Semua Halaman | Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px.

HU-KRIM

Normalisasi Parit Tersier dan Sekunder, Asal Dana APBN, di Kemuning Muda, Diduga Asal-asalan

Rabu, 12 Mei 2021
SIAK - Masyarakat Kampung Kemuning Muda, Kecamatan Bungaraya mengharapakan pencucian atau normalisasi parit tersier dan sekunder yang berada di Kampung Kemuning Muda, agar dikerjakan sesuai dengan aturan. Sebab, masyarakat menilai, diduga penggalian parit tersier dan sekunder itu, dinilai terkesan asal-asalan.

Hal itu disampaikan oleh salah seorang warga Kemuning Muda, atas pelaksanaan kerja dan anggaran, Selasa 11/05/2021.

"Kami berharap untuk pengerjaan pencucian parit tersier dan sekunder di Kampung Kemuning Muda, agar sesuai dengan RAB nya. Karena kami melihat di lapangan pengalian paritnya ada yang dalam dan juga ada yang dangkal," ungkap warga Kemuning Muda yang enggan disebutkan namanya itu, Selasa (11/05/2021).
Dia juga menjelaskan bahwa, pencucian parit di sekuder dan tersier itu kalau dilihat kasat mata, kurang bersih, banyak di jumpai rumput yang masih berada di tengah-tengah parit.

"Sebagai warga, khususnya petani, kami minta pencurian sekunder ini bisa sepenuh hati (tidak separuh-paruh), artinya kami selama ini memahami, yang namanya pencucian setidaknya habis dicuci atau dinormalisasi, parit itu  menjadi bersih, tidak ada rumput ditengah parit," ungkapnya.

Atas informasi ini, media mencoba konfirmasi kepada pelaksana kerja di lapangan, Hariono.

"Benar mas, saya yang melakukan pengukuran kedalaman, panjang dan lebar normalisasi paret ini. Memang di lokasi kami jumpai kedalaman paret sekunder dan tersier ini bervariasi, ada yang kedalamannya 3 meter, 2 meter, ada juga yang ada yang  1 meter, dan yang lebih parahnya lagi, dari pintu air akhir itu kurang dalam alias dangkal," ungkapnya, Selasa 11/05/2021.

Lanjut  Hari, star dari awal pengalian itu memang dalam, sekitar 50 meter dari titik nol atau yang dekat dengan Saung, dan sekitar 5 meter lagi itu dangkal.

"Intinya kita sebagai masyarakat berharap, pengerjaan pencucian dan pengalian sekunder dan tersier bisa semaksimal mungkin. Dan kami berharap parit tersier yang dangkal yang  digali menuju outlet sekitar 400 meter dari sekunder itu bisa digali lagi, agar air bisa tersimpan lebih lama dan tak kering," terangnya.

Selain itu, Hari juga inginkan keterbukaan informasi dari dinas terkait masalah proyek pompanisasi ini.

"Setidaknya ada plang di lokasi kerja, agar masyarakat tahu berapa kedalaman, lebar serta panjang nya normalisasi parit tersier dan sekunder ini," tutupnya.

Sementara itu, Manejer Proyek Pompanisasi, Irwandi ketika dikonfirmasi melalui telpon selulernya mengatakan bahwa,  awak media agar menghubungi dinas terkait saja.

"Terkait hal ini, untuk lebih jelasnya silahkan bapak hubungi bagian irigasi atau Dinas Perairan Propinsi Riau, mereka yang lebih tau," tegasnya.

Irwandi juga mengaku sangat kesal dengan warga Kemuning Muda yang mengadu, karena pengalian normalisasi yang dilakukan itu permintaan dari warga, tapi kenapa mereka laporkan masalah ini.

"Seharusnya bapak tahu, penggalian ini permintaan dari siapa awalnya, kalau bapak pengen tahu, nanti saya perlihatkan suratnya dan saya kirim lewat WA, atau besok habis lebaran bapak ketemu dengan saya, saya kasih surat permintaan dari warga itu. Bagus juga bapak ada, karena warga itu menyerahkan sesuatu, mereka tidak minta lagi yang lain- lain," jelasnya.***

Laporan: Sugianto
Editor: Redaktur INVESTIGASINEWS.CO