Warga Keluhkan Jalan Rusak Parah. Diduga Akibat Jonder yang Dimodifikasi, Mengakibatkan Jalan Sekunder 9 Rusak Parah

InvesBoleh diganti atau hapus

InvesBoleh diganti atau hapus

Iklan Semua Halaman | Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px.

HU-KRIM

Warga Keluhkan Jalan Rusak Parah. Diduga Akibat Jonder yang Dimodifikasi, Mengakibatkan Jalan Sekunder 9 Rusak Parah

Minggu, 25 Oktober 2020
INVESTIGASINEWS.CO 
SIAK. Ahad 25/10/2020. Sungguh mengenas, keadaan Jalan Sekunder 9, Dusun IV, Kampung Tuah Indrapura,Kecamatan Bungaraya rusak parah akibat seringnya dilintasi Jonder yang sudah dimodifikasi untuk mengangkut hasil sawit di musim penghujan maupun musim kering.

Dampak dari kerusakan jalan ini, bukan saja menghalangi masyarakat yang akan mengeluarkan hasil kebunnya dengan mengunakan motor maupun mobil, namun juga menghalangi warga yang lain untuk melakukan aktifitas sehari-hari.

Hal ini disampaikan RN, salah seorang warga yang tinggal di sekunder 9. Ia mengaku sangat sengsara ketika musim hujan tiba, ditambah lagi jalan yang hancur seperti sawah yang baru dilintasi Jonder milik Hi dan NI yang disewanya itu.

"Kalau pas lagi hujan, jalan ini tak bisa dilewati dengan motor Bang, karena keadaanya kayak disawah yang baru saja dibajak, jangankan pakai motor,jalan kaki saja bisa kepleset jatuh. Saya kemarin saja naik motor sambil membawa galon terjatuh-jatuh gara gara jalan hancur akibat Jonder yang baru saja melintas. Ban besar Jonder, bukan saja membuat jalan menjadi padat,malah sebaliknya menjadi gembur,becek,berlobang  dan licin," ungkap RN, salah satu warga yang tinggal di sekunder 9  kepada INVESTIGASINEWS.CO, Ahad 25/10/2020.

Hal senada disampaikan Tokoh Masyarakat Kampung Tuah Indrapura Anton, ia mengaku kecewa dengan oknum pengusaha sawit yang sudah melanggar kesepakatan perjanjian untuk tidak memasukan Jonder kejalan sekunder 9, mengingat jalan tersebut rusak parah.

"Kami bersama pengusaha sawit dan ketua Bapekam serta  pemerintahan kampung  membuat kesepakatan bersama untuk tidak memasukan Jonder ke jalan Sekunder 9,karena banyaknya keluhan masyarakat disana akibat jalan rusak parah. Dan bahkan, permasalahan itu pernah dibawa kekapolsek melalui kanitnya, mereka sepakat juga bahwa disitu Jonder tak boleh masuk lagi,dan pak penghulu juga sudah mendatangi mereka, namun oknum ini masih saja membandel," ungkapnya dengan rasa kesal.

Anton juga mengaku kecewa, kerena alat Jonder itu seharusnya dipakai untuk membantu petani untuk mengelola dan membajak sawah,namun malah digunakan untuk melangsir sawit dan mengakibatkan jalan hancur.

"Dulu orang itu kalau tidak salah mengunakan  Jonder dari Bungaraya, karena  ada kesepakatan, mereka berhenti sebentar, habis itu, saya dengar informasi mereka memasukan Jonder lagi yang disewa dari Kampung Buantan Lestari. Kemarin hari Jumat saya juga sudah sampaikan kepada pak Camat, waktu ada acara pemuda tanaman buah Tuah Indrapura, saya minta tolong untuk dibantu masalah ini, kerena masyarakat sudah sengsara akibat jalan yang rusak parah itu," ungkapnya 

"Kami berharap kepada dinas terkait agar dapat mengevaluasi kembali bantuan-bantuan yang berupa untuk mengelola sawah  jangan dialih fungsikan lah. Dan saya juga berharap, kita sama-sama menjagalah jalan yang sudah rusak ini jangan dilintasi dengan alat-alat yang lebih canggih yang berdampak merugikan orang banyak," harapnya.

Sementara itu, Penghulu Kampung Tuah Indrapura Samingan melalui Kadus IV Sugianto juga mengakui kesulitan mengahadapi pengusaha-pengusaha yang bandel yang melanggar kesepakatan.

"Kita sudah buat kesepakatan bersama dan sudah ditanda tangani oleh masing-masing pengusaha kelapa sawit,namun oknum pengusaha ini masih saja bandel dan melanggar kesepakatan itu. Kami berharap kepada pihak berwajib untuk dapat menindak lanjuti masalah ini agar masyarakat tidak gaduh gara-gara jalan rusak," tegasnya.

Pantauan INVESTIGASINEWS.CO  dilapangan, jalan di Sekunder 9 ini benar- benar rusak parah  yang diduga akibat seringnya  dilintasi Jonder yang sudah di modifikasi seperti truk gandeng itu. Masyarakat tempatan,kususnya yang tinggal di sekunder 9 juga mengharapkan agar pemerintah kampung atau aparat keamanan untuk menindak lanjuti masalah ini, sebelum masyarakat bertindak.***

Reporter: Sugianto
Editor: Redaktur INVESTIGASINEWS.CO