Simpang Siur Informasi Terkait Ditutupnya Pasar Antri Baru (PAB) Cimahi, Pedagang Resah

InvesBoleh diganti atau hapus

InvesBoleh diganti atau hapus

Iklan Semua Halaman | Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px.

HU-KRIM

Simpang Siur Informasi Terkait Ditutupnya Pasar Antri Baru (PAB) Cimahi, Pedagang Resah

MEDIA DETIL 1
Rabu, 27 Mei 2020
InvestigasiNews.co
Cimahi. Rabu 27/05/2020. Ditutupnya pasar Antri Baru selama 14 hari menuai polemik pasalnya data yang dikeluarkan pemerintah kota Cimahi dan kenyataan di lapangan berbeda.

Seperti diberitakan sebelumnya, Walikota Cimahi Ir.Ajay M Priatna MM di halaman IG pribadinya Ajay menyatakan berdasarkan Swab tes dari 58 pedagang Pasar Antri Baru, 4 orang dinyatakan terpapar virus Covid 19 sehingga untuk mencegah penyebaran virus Covid 19 lebih meluas, pemerintah kota Cimahi membuat kebijakan untuk menutup pasar antri selama 14 hari terhitung mulai tanggal 24 Mei 2020 yang lalu.

Hal tersebut mendapat tanggapan dari Pengelola Pasar Antri Baru bahwa berita tersebut berbeda dengan kenyataan di lapangan.

Salah satu pedagang yang juga perwakilan dari Paguyuban Pedagang Pasar Antri Baru (PAB), Agus Rudianto, menyampaikan bahwa berita yang disampaikannya Pemerintah simpang siur.

"Yang di swab tes itu cuman 51 orang dan yang terpapar virus Covid 19 itu cuman 1 orang bukan 4 orang. Pemberitaan tersebut hoax dan meresahkan masyarakat. Informasi yang simpang siur ini membuat Resah pedagang PAB yang lainnya ada sekitar 3000 pedagang yang  berjualan di PAB kini nasibnya tidak jelas, apalagi beredar kabar untuk rapid tes akan diminta biaya 300 RB rupiah perorang dan ini sangat membebankan kami", ungkap Agus.

Sementara itu Kepala Dinas Kominfoarpus, Hardjono, saat dihubungi melalui pesan What'sAppnya Rabu 27/05/2020 menyatakan fan menanggapi.
"Betul yang swab di pasar antri adalah 51 orang dan hasilnya sudah keluar semua. 2 orang terkonfirnasi posirif 1 orang wanita, warga setiamanah, pedagang aksesoris dan kerudung di block B atas dan 1 orang pria, warga KBB, pedagang kelontong di blok c bawah. Awalnya, hari sabtu siang, bu kadinkes menerima info ada 4. Info ini disampaikan ke pak Wali Kota pada malam takbir, malam harinya, bu kadinkes melihat ada yg janggal. Maka pagi hari, setelah sholat Ied, bu sekdis menghubungi pa Joni, pengelola pasar antri, dan mencocokan data pedagang. Saya ada pada saat itu. Dan terkonfirmasi dari 4 itu hanya 2 yang pedagang pasar antri, yang 2 bukan. Kedua orang itu warga cibabat. Nah, hasil konfirmasi ini saat itu belum disampaikan ke pak Wali, dan beliau sudah menginformasikan di IG pada pagi hari. Lalu pada pertemuan hari  selasa kemarin dengan paguyuban pedagang, info ini sudah disampaikan, dan saya ada di ruangan itu, di manajemen pasar antri", jelasnya panjang lebar.

Ketika dikonfirmasi terkait adanya biaya Rapid test, Hardjono mengungkapkan tenaga medisnya yang siapkan dari pemkot.

"Kemarin  dalam rapat dengan manajemen sudah disampaikan, Pemkot menangung swab yang 100 orang pedagang dan 38 orang yang kontak erat dgn ibu itu (pedagang tepapar Covid 19- red). Dan untuk 650 pedagang lainnya, diminta untuk  rapid tes mandiri. Artinya alat yang siapkan manajemen dan pedagang, tenaga medisnya yang siapkan pemkot. Pedagang diminta utk menyiapkan alat bagi diri dan karyawannya", tutupnya.***FENDY