Memutus Mata Rantai Thalasemia

InvesBoleh diganti atau hapus

InvesBoleh diganti atau hapus

Iklan Semua Halaman | Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px.

HU-KRIM

Memutus Mata Rantai Thalasemia

Minggu, 02 Februari 2020

InvestigasiNews.co
CIMAHI. Sabtu 01/02/2020. "Thalasemia adalah penyakit kelainan darah bawaan yang ditandai oleh kurangnya protein pembawa oksigen (hemoglobin) dan jumlah sel darah merah dalam tubuh yang kurang dari normal, penyakit ini bawaan genetika, jadi kalau seorang laki dan perempuan menikah yang masing masing sudah mengidap penyakit Thalasemia sudah dapat dipastikan bayi yang lahir dari pasangan tersebut akan mengidap penyakit thalasemia", ujar Wakil walikota Cimahi Letkol INF (Purn) Ngatiyana di sela sela acara sosialisasi Thalasemia Sabtu  tanggal 1 Februari 2020  di Aula Kantor Kecamatan Cimahi Utara Jln. Jati Serut Kota Cimahi.

Lebih lanjut Ngatiyana menjelaskan bahwa peran Pemerintah harus mensosialisasikan pentingnya pengetahuan tentang penyakit Thalasemia agar bisa terdeteksi sejak dini, sejak mulai dari kandungan sampai lahir, jadi penyakit ini bisa dicegah dengan mengkonsumsi makanan-makanan yang bergizi tinggi. Selain itu penyakit ini juga bisa menyerang tulang-tulang menjadi keropos kalau si penderita jatuh bisa menyebabkan patah tulang atau remuk.

Menurut data yang disampaikan dr.Chairul Amri tadi warga Cimahi yang berobat ke RS Hasan Sadikin Bandung mencapai 80 orang.

Sementara itu Rd.Ayu Roosye Andriyani selaku panitia penyelenggara menyampaikan bahwa tujuan diadakan kegiatan ini adalah untuk memutus mata rantai  pengidap penyakit Thalasemia.

"Penderita memang membutuhkan perhatian khusus untuk itu sudah menjadi kewajiban pemerintah dalam hal ini dinas kesehatan untuk lebih memperhatikan karena pengidap penyakit thalassemia harus melakukan transfusi darah seumur hidupnya dan ini sangat menyakitkan bagi si penderita" jelasnya.

Ia berharap ada dukungan penuh dari pihak pemerintah sehingga tidak ada lagi masyarakat Cimahi yang menderita seumur hidupnya karena thalasemia.

"Kami tidak meminta materi kepada pemerintah yang kami butuhkan adalah perhatian khusus untuk membantu mensosialisasikan ke semua lapisan masyarakat karena memang penyakit ini belum begitu populer, karena selama ini thalasemia minim perhatian", tutupnya.***FENDY