Diduga Akibat Pipa Line Transfer Produksi Bocor, Kebun Karet Warga Digenangi Ceceran Minyak Mentah. DLH Akan Panggil Perusahaan

InvesBoleh diganti atau hapus

InvesBoleh diganti atau hapus

Iklan Semua Halaman | Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px.

HU-KRIM


Diduga Akibat Pipa Line Transfer Produksi Bocor, Kebun Karet Warga Digenangi Ceceran Minyak Mentah. DLH Akan Panggil Perusahaan

MEDIA DETIL 1
Senin, 30 April 2018

INVESTIGASINEWS.CO
PALI-SUMSEL. Hampir semua pipa line transfer Produksi milik PT Pertamina EP Asset 2 Adera Field yang melitasi kecamatan Abab di wilayah Kabupaten PALI, Sumatera Selatan (Sumsel), kondisinya kini sudah sangat mengkhawatirkan, selain tua dan berkarat, pipa line ini kerap kali mengalami kebocoran.

Berdasarkan informasi dihimpun wartawan INVESTIGASINEWS.CO Senin 30/04/2018, dari warga setempat, dalam waktu satu bulan saja pipa line transfer produksi ini sudah lima kali mengalami kebocoran, yang diduga disebabkan oleh korosi sehingga tidak mampu menahan minyak bertekanan tinggi yang dikirim dari stasiun pompa.

Akibat dari kebocoran tersebut, alhasil beberapa kebun karet milik warga terkena ceceran minyak mentah sehingga produksi getah karet warga menurun, bahkan limbah minyak mentah berwarna hitam pekat itu sebagian mengaliri anak sungai dan air payau yang berpotensi pada ekosistem flora dan fauna hayati.

Irsan (60th) salah satu warga Desa Perambatan, Senin (30/04/2018), kepada INVESTIGASINEWS.CO keluhkan hal ini. "Di tengah kebun karet saya saja, sudah dua kali mengalami kebocoran. Pekan lalu satu kali tapi hanya keluar air asin saja, tidak lama berselang kembali lagi kebocoran, tapi kali ini yang keluar dari pipa itu minyak mentah dan merendam puluhan batang pohon karet, sudah dipastikan produksi karet ini pasti menurun," tutur Irsan (60) salah satu warga Desa Perambatan ini.

Selain itu menurutnya kejadian ini bukan satu tempat, namun melainkan ada lima titik yang mengalami kebocoran, bahkan dalam waktu sehari ada tiga kejadian yang serupa. Pertama di simpang Abab 40, kedua Abab 5, dan Abab 7. Sedangkan payau lata dan dusun tue kejadiannya bulan lalu. Tetapi sampai detik ini limbah tersebut masih mengapung diatas permukaan air.

"Kalau yang ada di kebun kita sudah ada upaya pembersihan dari pihak PT Pertamina EP Asset 2 Adera Field. Begitu kejadian, tim produksi langsung datang, dan keesok harinya dibersihkan. Tapi kalau untuk di beberapa air payau itu, sampai kini limbah minyak mentah tersebut masih tergenang diatas permukaan air," ujar Irsan menambahkan.

Bapak Ejeng, tokoh masyarakat setempat, sangat menyayangkan pihak perusahaan plat merah tersebut, seolah olah tidak memperdulikan lingkungan sekitar. Seolah olah terkesan ada pembiaran. Karena menurutnya, mengingat dampak dari limbah minyak mentah tersebut sangat berbahaya, apalagi sempat masuk ke anak sungai dan payau, ini bisa berpotensi pada ekosistem.

"Kalau begini kejadiannya saya rasa pihak Pertamina sudah melalaikan tanggung jawabnya. Apalagi sampai berbulan bulan minyak itu masih berada diatas air. Kemarin memang ada informasi bahwa Pihak perusahaan berupaya membersihkan limbah minyak mentah itu dari air, tapi kami menilai tidak memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP)," terang Ejeng.

Mengapa demikian lanjutnya, "Pihak perusahaan membersihkan limbah minyak mentah tersebut hanya menggunakan tenaga manual dan hanya beberapa personil dari tim produksi, sedangkan minyak yang tercecer mencemari lahan payau diperkirakan mencapai hampir satu hektare dan puluhan barel minyak mentah yang menyebar.

" Alhasil sampai sekarang limbah minyak mentah tersebut masih tergenang diatas permukaan air dan pihak perusahaan membersihkan limbah itu sepertinya sesuka hati, kadang ada orang yang membersihkan kadang tidak sama sekali, kami selaku tokoh masyarakat dalam waktu dekat ini akan melayangkan surat ke Dinas Lingkungan Hidup," ujarnya.

Terpisah, Ameriudin, Kepala Desa Perambatan, Kecamatan Abab, mengaku selama ini masyarakatnya sudah sangat diresahkan oleh kerap kali pipa line PT. Pertamina mengalami pecah, tapi untuk melaporkan kejadian itu kepada pihak Perusahaan jarang sekali ditindak lanjuti, sehingga pembersihanya berlarut larut.

"Kami selaku Pemerintah Desa menilai pihak Perusahaan, berlarut larut menangani persoalan yang ada, padahal warga selalu melaporkan setiap ada kejadian pipa pecah tapi hal itu kurang ditanggapi sehingga limbah minyak mencemari beberapa anak sungai dan air payau," ungkapnya.

Sementara Yuhairudin, SE. kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten PALI ketika dikonfirmasi terkait tercemarnya lingkungan akibat duga kebocoran pipa line transfer produksi PT Pertamina EP Asset 2 Adera Field mengatakan, bahwa dalam waktu dekat ini pihaknya akan mengundang pihak PT Pertamina EP Asset 2 Adera Field serta mempertanyakan sejauh mana pihak Pertamina dalam menangani limbah sesuai SOP atau tidak.

"Dalam waktu dekat ini kita akan mengundang pihak Perusahaan terkait dugaan pencemaran limbah yang disebabkan oleh pecahnya pipa minyak milik PT Pertamina EP Asset 2 Adera Field sehingga beberapa air payau dan anak sungai terkontaminasi, dan mekanisme pembersihanya memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP) atau tidak," singkatnya.

Sementara, pihak PT. Pertamina Asset 2 Adera Field sendiri, sejauh ini belum bisa didapat keterangan apa sebenarnya yang mengakibatkan hal itu terjadi terkait bocornya pipa yang dianggap sudah meresahkan masyarakat itu.***md


Most Popular

Video InvestigasiNews.co

https://www.youtube.com/@investigasinewsredaksi/featured

Video Terpopuler

https://www.youtube.com/@DwiPurwanto-kd4uf

Berita Terkini

Perbaikan Jalan Utama Siak - Sungai Mandau Jadi Prioritas

Foto: Perbaikan Jalan Utama Siak - Sungai Mandau Jadi Prioritas.  INVESTIGASINEWS.CO SIAK. Sungai Mandau - Bupati Siak Alfedri m...