Dugaan Kejahatan Lingkungan Cincangan Replanting, Populasi Kumbang Tanduk Merebak, Sudah Lima Tahun Lebih Petani Kelapa Menderita

InvesBoleh diganti atau hapus

InvesBoleh diganti atau hapus

Iklan Semua Halaman | Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px.

HU-KRIM

Dugaan Kejahatan Lingkungan Cincangan Replanting, Populasi Kumbang Tanduk Merebak, Sudah Lima Tahun Lebih Petani Kelapa Menderita

Kamis, 02 Juli 2020
INVESTIGASINEWS.CO 
Manggar. Kamis 02/07/2020. Kegiatan Replanting Kebun Sawit PT. SMM/ANJ mengakibatkan serangan  wabah kumbang tanduk yang telah merusak dan mematikan tanaman kelapa milik petani.

"Ini merupakan kejahatan lingkungan akibat dari populasi kumbang tanduk, 5 (lima) tahun sudah derita petani Kelapa. Kalau pengusaha sudah mengatur penguasa, ini jadinya so pasti rakyat korbannya, kejanggalan demi kejanggalan terus berlangsung", ungkap salah satu warga Jangkang Kecamatan Dendang Belitung Timur Propinsi Bangka Belitung, Zulman, kepada media INVESTIGASINEWS.CO, Rabu 01/07/2020.

Zulman adalah salah satu tokoh masyarakat Jangkang, ia menyampaikan bahwa Hak Guna Usaha (HGU) PT. SMM yang terbit tahun 1990 dan berakhir 31 Des 2020, namun sudah diperpanjang 15 tahun sebelum HGU tersebut berakhir tepatnya 15 Mei 2005 terbitlah surat keputusan BPN yang isinya memberikan Perpanjangan sekaligus pembaharuan HGU PT. SMM selama 55 tahun kedepan terhitung 1 Januari 2021dan nanti berakhir di tahun 2075.

"Tidak pernah disosialisasikan sebelumnya, sebetulnya kami keberatan sekali dan menolak atas perpanjangan/ pembaharuan HGU PT. SMM tersebut dan itu senjata perusahaan untuk mengelak dari kewajiban plasma minimal 20% dari luas lahannya," ungkap Zulman kepada media ini.

Zulman mengatakan pada Tahun 2015 mereka (PT. SMM/ANJ) mulai melakukan replanting kebun sawitnya dan itupun tanpa sosialisasi sebelumnya, dan berawal dari replanting itulah wabah kumbang tanduk mulai tak kendali.

"Membuat hampir 100% kebun kelapa masyarakat Kecamatan Dendang mati diserang Kumbang tanduk tersebut yang berkembang biak dengan  pesat dibawah tumpukan cip/ cincangan pohon kelapa sawit eks replanting tersebut," jelasnya

Zulman juga menjelaskan kerugian sekitar 6 Milyar untuk Desa Jangkang, khusunya dengan  kerusakan dan matinya pohon kelapa dengan asumsi jumlah pohon.

"Jumlah pohon kelapa yang mati  2000 batang x10 buah/batang/bulan x Rp 5000,/buahx12 bulan, selama x 5 tahun. Inilah tuntutan ganti rugi warga masyarakat dengan 4 kali pertemuan, sampai saat ini belum ada realisasi dari pihak perusahaan", tambah Zulman.

Zulman memperkirakan, semua Desa di Kecamatan Dendang sudah menyebar, diperkirakan pada tahun 2025 pohon kelapa akan terancam habis, bahkan kumbang tanduk  sudah melintas ke Kecamatan Badau tepatny di belakang SMK Badau.

"Lima tahun sudah derita yang dialami petani kelapa namun mereka tidak mendapatkan kompensasi apapun. Sepertinya upaya masyarakat untuk menuntut ganti rugi atas matinya pohon kelapa mereka (petani red) akibat serangan wabah Kumbang tanduk tersebut tak kunjung terealisasi," tutup Zulman.

Sementara, Ismet, pengurus LSM di belitung Timur yang didampingi Yopi, juga anggota LSM di Belitung Timur mengatakan, bahwa sebaran hama tersebut adalah bagian dari kegiatan Replanting yang menimbulkan dampak yang sangat luas, yang bisa mempengaruhi dan menimbulkan dampak pencemaran.

"Benar, karena sebaran hama tersebut adalah bagian dari kegiatan replanting, bisa menimbulkan dampak yang sangat luas, dampak pencemaran baku mutu air, udara dan hama. Hal ini yang membuat resah warga masyarakat Kecamatan Dendang resah", ujarnya.

Sementara pihak perusahaan PT.SMM saat di hubungi melaui Whats App belum bisa dimintai konfirmasinya untuk memberi jawaban.***Mulyadi