Tanpa Bantuan Pemkab Siak dan BUMD, Sanggar Seni Asal Siak Ini Buktikan Prestasi ke Kancah Nasional

InvesBoleh diganti atau hapus

InvesBoleh diganti atau hapus

Iklan Semua Halaman | Masukkan kode iklan di sini. Direkomendasikan iklan ukuran 970px x 250px.

HU-KRIM

Tanpa Bantuan Pemkab Siak dan BUMD, Sanggar Seni Asal Siak Ini Buktikan Prestasi ke Kancah Nasional

Kamis, 08 September 2022

Foto: Anak-anak Sanggar Sekayuh Sehati SMPN 1 Mempura bersama Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo.


INVESTIGASINEWS.CO
RIAU - Menjalani proses seleksi dan latihan yang panjang, berbuah manis. Penggiat seni asal Kecamatan Mempura, Siak, Riau, Winda Harniati, akhirnya berhasil membawa sanggarnya, Sanggar Sekayuh Sehati SMPN 1 Mempura, lolos seleksi dan diundang untuk tampil di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah dalam Festival Payung Indonesia.


Dalam Festival yang diinisiasi oleh Kementerian Pariwisata melalui Direktorat Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Seni dan Budaya ini, Winda memboyong 10 orang terdiri dari penari, penata busana, penata tari dan pemusik dengan tarian bertajuk Ghatib Beghanyut yang diciptakannya.


Di Solo, anak didik Winda tampil memukau. Walau nota bene masih siswi SMP, namun mereka tampil bersaing dengan puluhan peserta dari daerah lain di Indonesia bahkan dari luar negeri.


Diundang Ganjar Pranowo

Hebatnya lagi, karena tampilannya yang memukau, Winda beserta crew diundang langsung Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo untuk tampil kembali di Pendopo Gubernuran dilanjutkan bincang ringan.

Kesempatan tersebut tidak disia siakan Winda. Disela perbincangan sekitar dua jam bersama Ganjar, Kepala Sekolah SMPN 1 Mempura ini memberi Ganjar cinderamata berupa tanjak (ikat kepala) serta bolu kemojo yang menjadi ciri khas Siak. Ganjar pun dengan sumringah menerima tanjak Siak yang dikenakan langsung oelh Winda serta mencicipi bolu kemojo.


Tidak itu saja, sebagai rasa terimakasih atas peran serta dan tampilan memukau Sanggar Sekayuh Sehati, Gubernur yang digadang-gadang menjadi bakal calon Presiden RI pada pemilu 2024 mendatang ini memfasilitasi Winda dan rombongan untuk berwisata di Jawa Tengah lengkap dengan fasilitas hotel dan bis wisata. Tak terkira rasa bahagia Winda dan rombongan atas kebaikan hati Gubernur low profile tersebut.


Gadaikan gelang emas

Tapi tahukah anda? dibalik sukses tampilan dan bahagia atas sambutan Ganjar Pranowo, ada sekelumit kisah mengharu biru di baliknya.


Betapa tidak? demi untuk mengongkosi rombongannya menuju festival tahunan bergengsi tersebut, Winda harus rela menggadaikan gelang emas miliknya karena proposal yang diajukan kepada Pemkab Siak tidak membuahkan hasil.


Demikian juga proposal yang dilayangkan kepada BUMD PT Bumi Siak Pusako, nol, tiada dibantu walau sempat dijanjikan.


Walau demikian, Winda yang di Siak tidak saja dikenal sebagai Kepala Sekolah berprestasi tapi juga seorang penggiat seni dan budaya ini, tidak patah semangat. Dengan hati penuh tekad untuk memperkenalkan daerahnya melalui seni dan budaya di kancah festival bertaraf internasional, diapun tanpa ragu mencopot gelang emas yang selama ini menghiasai pergelangan tangannya untuk digadaikan.


Sampai disitu, masalah belum selesai, saat dirinya datang ke agen bus, ternyata ongkos perorangnya mencapai Rp.780 ribu perorang. Hitung punya hitung termasuk ongkos pulang nantinya dan selama di tanah Jawa, uang hasil gadai gelang bakalan tidak mencukupi.


Untunglah, sang agen bus berbaik hati memberi potongan harga begitu tahu rombongan yang akan berangkat, didominasi anak yatim.


“Alhamdulillah, agen bus berbaik hati. Tidak hanya memberi potongan harga tapi juga membekali kami air mineral botol. Alhamdulillah”, ujarnya Selasa 06/09/2022 malam.


Winda memaparkan, untuk bisa menembus festival tersebut, pihaknya melalui proses seleksi ketat dari pihak penyelenggara, mulai video tampilan hingga profile sanggar.


“Prosesnya sekitar tiga bulan dan alhamdulillah kita dinyatakan lolos dan diundang untuk tampil. Tapi panitia tidak menyiapkan akomodasi ataupun transportasi, hanya sebatas konsumsi saat perhelatan saja yang digelar dari tanggal 2 sampai tanggal 4 (September)”, ungkapnya.


Awalnya, lanjut Winda, dirinya berharap ada bantuan dari Pemkab ataupun BUMD PT.BSP karena pihaknya membawa misi seni dan budaya Siak. Tema tarian yang ditampilkanpun mengadopsi kearifan lokal yaitu ghatib beghanyut (dzikir berhanyut di Sungai Siak yang merupakan tradisi masyarakat Siak untuk menolak bala).


“Kami bisa tampil diacara festival payung Indonesia di Solo melalui seleksi dengan proses yang panjang serta bersaing dengan sanggar dan komunitas seni yang ada di seluruh Indonesia dan mancanegara. Karena festival ini progresnya menuju Benua Eropa, semoga kami juga bisa lolos untuk tampil di Eropa nantinya. Aamiin”, ujarnya.


Winda ingin, kedepan para pelaku dan penggiat seni budaya lebih mendapat perhatian pemerintah dalam mengejawantahkan karya karyanya karena pada akhirnya akan memberi kontribusi bagi marwah negeri.


“Untuk generasi muda, pesan saya, jangan menyerah apalagi merasa malu dalam mengembangkan dan melestarikan seni budaya lokal. Teruslah berkarya dan berbuat yang terbaik untuk negeri kita”, pungkasnya.


Bupati Siak, Alfedri yang dikonfirmasi  melalui pesan whatsapp hingga berita ini diturunkan tidak ada jawaban, seperti dikutip dari gardaberita.com, Rabu sore 07/09/2022.***yanti.d